•  
  • SATE AYAM PONOROGO
Jumat, 24 Desember 2010 - 10:14:11 WIB
Manusuk Sima, Rekonstruksi Nilai Historis Kediri
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Kediri - Dibaca: 41039 kali

Kota Kediri  berdiri berdasarkan pada Prasasti Kwak yang ditemukan di Kwak. Atas keteladanan Wka Pu Catura dan sebagai dharmanya, maka ditetapkanlah tanah tegal di Wanua Kwak sebagai sawah pardikan (sima) oleh Raja Mataram, Sri Maharaja Rake Kayuwangi. Seiring dengan perkembangan jaman berkembang pula Wanua Kwak yang hanya sebagai pardikan menjadi suatu komunitas kehidupan yang mempunyai sistem sosio budaya yang teratur pada jamannya hingga menjadi sebuah kerajaan sebesar Kediri dan berjaya pada masanya. Dan berdasarkan pada Prasasti Kwak inilah, tanggal akhirnya 27 Juli 879 dijadikan sebagai Hari Jadi Kota Kediri.

Pemberian anugerah oleh kerajaan terhadap warga wanua Kwak yang salah satu bagian dari wilayahnya ditetapkan sebagai sima dilakukan dengan upacara penetapan sima atau dalam prasasti dikenal dengan upacara manusuk sima. Upacara manusuk sima merupakan upacara resmi yang dilakukan oleh suatu daerah yang mendapat anugerah berupa tanah sima dari kerajaan. Sima memiliki pengertian sebidang tanah yang diberi batas, dibebaskan dari pajak-pajak tertentu dan sejumlah kewajiban oleh raja atau pejabat tinggi. Penetapan sima membawa beberapa perubahan terhadap status tanah dan pendukungnya. Hal ini disebabkan tanah sima memiliki beberapa keistime-waan, yaitu:

1. Mempunyai kekuatan hukum yang pasti. Biasanya ketetapan ini dituangkan ke dalam sebuah prasasti yang diumumkan pada waktu upacara penetapan sima.

2. Tanah sima berstatus swatantra, artinya para penarik  pajak dari kerajaan tidak diperbolehkan menarik pajak di wilayah sima.

3. Tanah sima juga merupakan tanah suci, apalagi jika di atas tanah sima terdapat bangunan suci.

4.  Status tanah sima sifatnya tidak terbatas atau berlaku untuk selama-lamanya.

Upacara manusuk sima di Kwak merupakan acara resmi yang harus dilakukan karena warga wanua Kwak dibawah pimpinan Rake Wka pu Catura mendapat anugerah dari kerajaan berupa sawah sima. Selain itu bagi Pemkot Kediri, manusuk sima merupakan salah satu cara untuk menggali kembali nilai-nilai historis masa lampau. Merekonstruksi peristiwa masa lampau untuk kemudian ditampilkan ke dalam  sebuah acara yang bersifat edukatif dan rekreatif tanpa harus menghilangkan alur peristiwa dan makna tradisi yang sebenarnya. Berdasarkan pada hal tersebut maka sangat tepat jika  pada setiap peringatan Hari Jadi Kota Kediri dilaksanakan kembali upacara manusuk sima seperti halnya pada saat itu dilakukan untuk penetapan tanah sima yang ada di Wanua Kwak.

Pelaksanaan upacara manusuk sima selalu dipusatkan di sumber  air Kwak (pemandian Tirtoyoso). Di tempat inilah didirikan witana atau panggung untuk tempat pelaksanaan upacara tradisi manusuk sima. Beberapa perlengkapan yang diperlukan diantaranya: Ubo rampe (terdiri dari tambra prasasti, batu sima, batu kalumpang, ayam jantan cemani, telor, dupa, dan kemenyan); Sesajian, terdiri dari : emas seberat 8 masa, kain bebed sebanyak 3 yugala, beras 1 pada, uang kepeng (wsi iket), 10 halu-halu (alat pemukul dengan ujung besi), 4 besi, 4 ikat wadung (kapak), 1 rimwas (kapak kecil), 1 tara tarah (beliung), 1 tampilan (mata bajak), 1 keris, 1 tatah, 1 landuk (parang), 1 linggis, 1 dandang, 1 piring tembaga, padamaran (lampu), bunga setaman, nasi tumpeng, nasi brok, dan sego golong; Pisungsung, terdiri dari : emas dan kain bebed (jarit).

Manusuk Sima dibuka dengan tarian Beksan Gagrak Pergaulan yaitu tarian yang sengaja digarap dengan menonjolkan ciri dan warna khas Kota Kediri khususnya dalam tata rias dan tata busana dan ditarikan oleh beberapa gadis cantik.

Setelah itu dimulailah prosesi upacara Manusuk Sima yang ditandai dengan pembacaan mantera  dan pembakaran kemenyan oleh sang makudur. Selanjutnya sang makudur memotong leher ayam cemani berlandaskan pada watu kalumpang, memecah telur dengan cara dihantamkan pada watu sima dan mena-burkan abu. Tindakan sang makudur ini mengandung arti simbolis yang ditujukan kepada orang yang berani melanggar ketentuan sima, yaitu akan mendapat malapetaka yang mengerikan seperti halnya kepala ayam yang dipisahkan dari badannya, badannya akan hancur seperti telur yang dihantamkan pada watu sima dan nyawanya akan melayang seperti abu yang terbawa angin.

Aum sembahing anatha, tinggalana de tri lokasarana, Awignham astu Isun tan Awacana, De nir Artaka darpa, Dang dahana bagni nir aweb sara sudharma. Artinya : Ya Tuhan semoga sembah permohonan hamba ini, Paduka ketahui sang pelindung tiga bhuwana, jangan ada halangan, hamba tidak mengucapkan kata-kata yang tidak berguna dan sombong, Api yang menyala-nyala ini semoga memberi pusaka yang berguna.

Acara lalu dilanjutkan dengan pembacaan fatwa dari Walikota Kediri. Setelah membacakan fatwa, Walikota yang berperan sebagai Rakai Kayuwangi menyerahkan prasasti kepada Rakai Wka Pu Catura. Penyerahan Prasasti memiliki makna simbolis yaitu telah diserahkannya hak dan wewenang oleh pihak kerajaan kepada penerima sima. Dengan diserahkannya prasasti kepada kepala sima maka mulai saat  itu segala hak dan kewenangan yang diberikan oleh kerajaan dinyatakan berlaku.

Setelah dilakukan penyerahan prasasti dilanjutkan dengan pemberian pisungsung (pasak-pasak/ hadiah). Pemberian pisungsung merupakan bentuka rasa terima kasih kerajaan kepada siapa saja yang telah banyak membantu dalam proses penetapan sima. Benda-benda yang biasa dihadiahkan kepada mereka yang berjasa atas terwujudnya sima berupa emas dan kain bebed. Dalam hal ini prasasti diserahkan oleh Rakai Hino kepada Rakai Wka pu Catura. Sedangkan pisungsung diserahkan oleh Rakai Hino kepada Rakai Wka pu Catura dan empat orang rama (kepala) desa yang desanya berbatasan langsung dengan desa Kwak, yaitu Rama I Kwak, Rama i Mnang, Rama I Bawang, dan rama i Tegawangi.

Setelah menerima prasasti dari Rakai Kayuwangi, Rakai Wka Pu Catura membawa prasasti menuju balaikota diiringi oleh empat orang rama tersebut.

Mendapat sima merupakan anugerah atau hadiah dari raja yang perlu disambut dengan kegembiraan. Di akhir acara akan diadakan pesta makan dan minum atau sering disebut dengan kembul bujono. Semua peserta upacara makan tiga macam nasi yang dijadikan sesaji, yaitu: nasi liwet (nasi yang ditanak dengan pangliweta berupa sego golong), nasi dinyun (nasi yang ditanak dengan jun berupa nasi brok), nasi matiman (nasi yang ditanak dengan kukusan berupa nasi tumpeng). Pesta rakyat dalam acara resepsi Hari Jadi ini dilaksanakan pada malam harinya di halaman Balaikota Kediri dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Siapapun boleh datang dan makan bersama-kembul bujono-bersama  para pejabat Pemkot Kediri.