•  
  • SATE AYAM PONOROGO
Jumat, 24 Desember 2010 - 10:00:04 WIB
Tradisi Kuno Kediri Rampog Matjan
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Kediri - Dibaca: 21 kali

Suatu siang yang terik di alun-alun kota Kediri. Ribuan orang berjejal memenuhi alun-alun, menimbulkan suasana hiruk pikuk. Mereka berdiri berdesakan mengelilingi alun-alun dan membuat arena dalam bentuk lingkaran besar, sedangkan orang yang berdiri bersiap ke belakang. Sedangkan yang berdiri di barisan paling depan masing-masing memegang tumbak yang runcing. Semuanya bersikap siaga, berdiri tegak dengan pandangan tajam mengawasi si macan tutul yang berlarian di tengah arena. Jika si harimau lari ke Timur, dihalau ke Barat, dengan
sendirinya sambil ditusuk dengan ujung tombak yang runcing dan tajam. Para penonton pun bersorak sorai riuh sekali, seperti membelah bumi dan meruntuhkan langit tanggal 1 Syawal, sekitar pukul dua belas siang.

Tidak berapa lama macan tutul tadi sudah luka parah dijadikan sasaran ribuan tombak. Ada yang langsung mati dengan luka tak terhitung jumlahnya, mirip Abimanyu ketika menjadi Senapati saat Perang Baratayuda Jayabinangun, saat dikeroyok para Kurawa dan akhirnya gugur dengan terluka parah.

Namun demikian, ada juga harimau yang lolos dan selamat dari kepungan tombak, kemudian melarikan diri dari arena. Jika terjadi demikian, para penonton makin riuh, lari ke sana kemari untuk menyelamatkan diri. Yang tidak memegang tombak berlarian tanpa arah, berusaha jangan sampai menjadi mangsa harimau.

Begitulah gambaran secara singkat saat merayakan Hari Raya Lebaran atau yang dalam bahasa Jawa disebut Bakda, pada zaman kuno, sekitar tahun 1890-an sampai dengan 1900-an . Tradisi menombak harimau itu biasa disebut ngrampog. Hampir setiap kabupaten umumnya melakukan tradisi seperti itu untuk merayakan Hari Lebaran. Namun setelah menginjak tahun 1905, peme rintah Belanda melarang rampogan macan. Sebagai akibatnya, setiap Lebaran atau Bakda, menjadi kurang ramai.

Kandang macan

Ketika tradisi rampogan ini dikerjakan, masih banyak ditemukan harimau di hutan-hutan. Harimau-harimau tadi sering mengganggu petani karena sering makan hewan ternak, terkadang juga memangsa manusia. Karena itu para pejabat atau penguasa memerintahkan menangkap harimau yang merugikan petani tersebut. Bahkan jika perlu dibunuh. Yang bisa menangkap sekaligus membunuh harimau akan diberi hadiah sepuluh sampai dengan lima puluh gulden, tergantung besar atau kecilnya si macan.

Untuk itu sejak bulan Ruwah dan Puasa desa-desa di sekitar hutan sudah mulai memasang jerat atau perangkap di hutan dengan maksud untuk menangkap harimau. Biasanya diberi umpan kambing atau anjing. Harimau yang tertangkap kemudian dikurung, sampai saatnya dipergunakan.

Setelah dikurung dalam waktu yang tidak terlalu lama, harimau atau macan tutul tadi dibuat bancakan, ditusuk tumbak dari berbagai arah.

Ngrampog macan atau merampog harimau

Untuk merayakan Hari Lebaran setelah berpuasa sebulan penuh, zaman dulu di alun-alun diadakan berbagai macam keramaian. Ibaratnya, semua penduduk hadir di alun-alun, menonton keramaian menyambut Lebaran. Berhubung Idul Fitri merupakan Hari Raya yang hanya sekali dalam setahun, maka saat eksekusi terhadap harimau yang tertangkap tadi dijatuhkan bersamaan dengan jatuhnya Hari Pertama Idul Fitri, atau tepatnya tanggal 1 Syawal, sekaligus dijadikan tontonan atau hiburan.

Ketika ada rampogan, di pekarangan yang berdekatan dengan alun-alun-alun, dibuatkan kandhang macan yang terbuat dari ruyung (pohon aren/kelapa) atau besi ukuran 2 X 2 X 2 M, yang diatur berjajar. Tentu saja kandang tadi dijaga siang malam. Harimau yang besar, kandangnya terbuat dari ruyung. Alasannya, supaya harimau tidak bisa keluar dari krangkeng karena takut terselusup (tlusupen, Jawa) ruyung. Sebaliknya, jika hanya menggunakan besi, meski besarnya sebesar tangkai sabit, tetap bisa dijebol. Kandang tadi dipasangi pintu seperti pintu bagasi mobil, sedang bagian atas diberi atap yang terdiri atas 2 bagian papan yang menjadi atapnya.

Bersamaan dengan keramaian rampogan, arena yang luas di alun-alun dikelilingi ribuan orang, yang berdiri tegak memegang tumbak. Semua mata tertuju ke kandang macan. Dengan peralatan yang dapat menarik pintu ke arah atas, maka tatkala tali ditarik dari kejauhan, kerangkeng itu akan rusak berantakan, dan menimpa harimau di dalamnya. Karena terkejut, harimau lari keluar, yang akan disambut dengan ribuan tombak yang runcing. Inilah yang disebut rampogan, atau dengan kata lain membunuh harimau dengan cara dirampog atau dikeroyok dengan ribuan senjata.

Lebaran dan Barisan

Menjelang pukul delapan para penggede atau priyayi bersiap dengan berdandan habis-habisan, memakai kampuh dan kuluk, duduk lesehan, masing-masing membawa tikar atau alas duduk. Sekitar pukul delapan tiga puluh, secara serentak para pembesar tadi masuk ke Paseban (tempat untuk menghadap para pembesar) dan menggunakan payung untuk berlindung dari terik matahari. Perjalanan mereka diiringi dengan Gendhing Monggang. Di Paseban para pembesar tadi diterima oleh sang Bupati dengan salam selamat datang. Sedangkan para pembesar dari negeri seberang menyampaikan penghormatan kepada Bupati, kemudian dilanjutkan dengan
arak -arakan encek yang mengelilingi arena dan berhenti di depan pendapa.

Acara dilanjutkan dengan membawa hidangan dari pendopo Kabupaten yang selanjutnya diserahkan kepada Pengulu di Masjid, untuk diadakan doa selamat. Setelah acara selesai, para pembesar kembali ke peristirahatan untuk berganti baju keprajuritan. Mereka memakai celana, jas tutup hitam yang biasa digunakan untuk menghadap bupati (sikep), ikat kepala (udheng) dan topi pet, membawa keris dan selanjutnya diselipkan di punggung; kemudian mencari tempat duduk sesuai dengan golongan, wilayah, dan kedudukannya, di sekitar Beringin Kurung. Sedang para tamu dari negeri seberang, Nyonya dan Tuan, para bangsawan putri , nonton dari atas panggung.

Setelah barisan priyayi tadi keluar dari mesjid, para lurah sudah bersiaga dalam barisan sesuai dengan tempatnya. Semua menancapkan tumbaknya ke tanah, berjajar dengan jarak sekitar 30 sentimeter, mengelilingi arena hingga empat atau lima lapis. Tombak yang tangkainya pendek diletakkan di depan, yang tangkainya panjang di belakang. Pukul sebelas, bupati, patih, dan mantri kabupaten serentak masuk barisan. Bupati mengendarai kuda abu-abu, menerabas untuk
memundurkan barisan yang terlalu maju. Setelah semua siap dan tertata rapi, sang Bupati naik ke atas panggung bersama para tamu. Hal tersebut merupakan isyarat bahwa rampogan segera dimulai.

Di antara barisan di beringin kurung dan barisan di pinggir ada peti kayu dengan panjang sekitar 1,5 meter, dengan tinggi sekitar 60 sentimeter, ditata menghadap keluar, membelakangi barisan dalam. Itulah kerangkeng harimaunya, yang masih terkunci dengan dipantek bambu, ditutup dengan papan, diberi pengait panjang hampir mencapai Beringin Kurung. Tukang melepas harimau yang disebut gandek juga sudah bersiaga di barisan bagian dalam.

Tepat pukul dua belas, gandek diberi isyarat untuk melepas harimau. Biasanya, yang dikukuhkan menjadi gandek adalah Kepala Desa yang pemberani dalam menghadapi macan. Setelah menyembah Bupati, gandek naik ke atas kerangkeng, menebas pantek bambu. Setelah selesai, ia turun dan masuk ke dalam barisan. Selanjutnya tali ditarik, kerangkeng-kerangkeng berantakan papan penutupnya, jatuh menimpa si harimau.

Si harimau menengok ke kanan dan ke kiri, mungkin karena silau, atau pusing karena kejatuhan papan. Bahkan, ada harimau yang lucu, keluar dari kerangkeng hanya terbengong sekitar lima menit, berjalan pelan, termenung sebentar kemudian menguap, termenung lagi, bergulung-gulung di rerumputan, terlentang, berpanas matahari. Orang-orang yang menonton bersorak-sorak gegap gempita, dengan maksud agar harimau segera lari menerabas barisan tombak. Jika harimau tidak menghiraukan, kemudian ada yang melempar kembang api, didatangi, digoda serta
diacungi tombak.

Ada suatu kejadian di Blitar. Kebetulan harimaunya galak, ditangkap dari hutan Lodaya. Namun karena Bupati Blitar memiliki senjata berupa cemeti yang ampuh, harimaunya menjadi jinak, bisa diajak bermain seperti anak kucing yang digoda dengan bulu.

Ada lagi versi lain. Jika harimaunya sudah tua, kadang memberikan firasat dalam mimpi. Kalau saja ia akan dirampog, ia akan merusak orang se negara. Jika ada kasus semacam ini, si harimau dibawa ke kebun binatang atau direndam didalam air sampai tenggelam, supaya mati.

Kadang-kadang harimau itu tak mau lari juga, hanya termenung di depan tombak yang ampuh. Kata orang, harimau semacam itu memang minta diruwat atau dibunuh. Tetapi jika harimaunya lari menerjang barisan, orang yang dituju si macan harus siaga dengan tombak, badan agak miring, kaki kakan di belakang untuk menyangga tubuh, tangan kiri memegang tengah tangkai yang berfungsi sebagai landasan, sedang tangan kanan memegang pangkal, menggerakkan arah tombak.

Gerak-gerik orang yang menjadi peserta rampogan beraneka macam. Ada yang pemberani, ada yang penakut, atau kemudian lemas ketakutan bahkan juga yang lari tunggang langgang, tombaknya terseret-seret sepanjang jalan.  

Harimau berhasil lolos

Jika ada harimau besar berhasil mati dirampog dan tidak berhasil meloloskan diri, gandheknya mendapat pujian, ia menari-nari di tengah alun-alun, disoraki banyak orang. Rampogan macan akan lebih ramai dan asyik justru jika ada harimau yang berhasil lolos dan keluar dari arena. Tingkah laku manusia di alun-alun ribut tak karuan. Ada yang kehilangan anak, kehilangan teman, ada yang mendapat kecelakaan, bahkan ada yang mencopet perhiasan penonton.

Di Kediri pernah ada rampog yang berhasil lolos, karena harimaunya masih segar dan liar lantaran baru saja tertangkap. Saat lepas, dia lari dengan cepat, ekornya tegak menantang lan menerjang pasukan. Ketika dijemput dengan tombak dia justru meloncat dan menjatuhkan diri serta menimpa orang yang berada di lapis depan. Enam orang yang ditubruk tentu saja luka berdarah terkena cakaran harimau. Sementara itu, peserta rampog yang lain melarikan diri sambil membawa tombak, tidak peduli dengan nasib orang lain, bahkan ada yang menabrak dagangan
orang sehingga langsung berantakan seketika. Si macan kemudian bersembunyi di bawah bangku tempat orang berjualan. Penjualnya berteriak-teriak, kemudian memukuli bangkunya dengan pikulan. Akhirnya si harimau mati dikroyok tombak orang banyak.

Ada lagi kejadian lucu. Ketika harimaunya berhasil lolos, ada orang yang nekat mencari kesempatan dalam kesempitan dengan menggerayangi tubuh seorang perempuan. Ketika ketahuan polisi, orang tersebut dipukul dengan pedhang yang masih bersarung. Karena banyak yang mengira bahwa orang tersebut pencopet, ia kemudian dikeroyok hingga pingsan. Ketika orang itu sudah hampir mati, barulah ia ditolong, diangkat seperti orang mengangkat babi hutan. Nah, ketika para pemikulnya meloncati sungai kecil, mereka pura-pura terpeleset, dan orang yang digotong jatuh ke sungai.

Di Blitar ada kejadian yang memilukan. Walau terluka perutnya karena tusukan tombak, si harimau sempat lolos dan naik ke pohon beringin. Dengan sendirinya orang-orang yang juga memanjat beringin banyak yang turun merosot ke bawah untuk menyelamatkan diri. Salah seorang di antaranya adalah seorang Cina. Begitu tahu harimaunya memanjat pohon, iapun nekat meloncat turun. Begitu sampai di tanah ia langsung pingsan, kepalanya bermandikan darah, karena kulit kepalanya terkelupas. Rupanya, kuncirnya yang panjang itu sebelumnya telah diikatkan pada sulur beringin oleh seorang anak yang usil. Waktu itu, memang para Cina masih
menguncir rambutnya, tidak model pendek seperti sekarang ini.

Sekitar pukul 14.00 rampogan sudah selesai. Kalau sudah begitu, banyak orang menyesali tombaknya. Katanya, tombaknya takut macan, baru diarahkan saja si tombak sudah letoi, mlungker. Kepercayaan orang waktu itu, memang ada tombak yang penakut. Sambil memukuli si tombak, orang tersebut mengomel, “Tombak macam apa ini, disayang-sayang, dihormati, dan dikutuki (dibakarkan kemenyan) setiap hari Jumat, tapi saat dibawa ngrampog kok memalukan. Baru lihat gerak-gerik macan saja, sudah letoi. Awas ya, jika sudah sampai di rumah akan kugadaikan kamu!”, begitu omelnya kepada si tombak miliknya.

Menurut kepercayaan orang-orang di masa itu, ampuh tidaknya suatu tombak bisa dilihat pada saat ada rampogan tersebut. Menurut pembicaraan umum, kalau tombaknya ampuh, konon saat si harimau lewat di hadapannya, bahu dari si pemegang tombak serasa seperti ditarik oleh sesuatu. Meskipun hanya terasa sesaat saja, si harimau akan terimbas. Ada lagi cerita, kalau kerisnya ampuh, manakala berjumpa dengan harimau, si keris akan menongolkan diri dan melompat sendiri. Maka tidak heran saat membawa jenis yang seperti itu, si keris haruslah
dibungkus terlebih dahulu.

Dicuplik dari: BAKDA MAWI RAMPOG (Lebaran Bersama Rampog), oleh: R. Kartawibawa,
Bale Poestaka, 1928